JEJAK LANGKAH, SEBUAH PANGGILAN
Sebuah perjalanan tentang mimpi, keberanian, dan proses menemukan makna menjadi seorang pendidik. Berawal dari bangku perkuliahan, pengalaman berorganisasi, pengabdian kepada masyarakat, hingga langkah pertama memasuki ruang kelas sebagai Guru IPS. Berbagai pengalaman dan tantangan membawa saya pada keputusan untuk terus bertumbuh melalui PPG Calon Guru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kini, di penghujung perjalanan PPG, saya menyadari bahwa menjadi Guru bukan sekadar tentang mencapai sebuah gelar profesi, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar, bertumbuh, dan memberikan manfaat bagi generasi masa depan. Inilah jejak langkah saya. Sebuah cerita yang tidak berhenti pada pencapaian, tetapi terus berlanjut dalam perjalanan pengabdian.

JEJAK LANGKAH, SEBUAH PANGGILAN
Dari ruang organisasi, ruang kelas, hingga perjalanan menjadi Guru IPS
“Setiap perjalanan memiliki ceritanya sendiri. Ada langkah yang dimulai dengan keberanian, ada proses yang dipenuhi pembelajaran, dan ada tujuan yang perlahan menemukan maknanya.”
PART 01 — Berawal dari Mimpi dan Keinginan untuk Bertumbuh
Saya percaya bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang membentuk dirinya menjadi pribadi seperti hari ini. Begitu pula dengan saya. Perjalanan ini bukan sesuatu yang terjadi secara instan, melainkan rangkaian pengalaman, kesempatan, tantangan, dan keputusan kecil yang perlahan mengantarkan saya pada satu tujuan: menjadi seorang pendidik.
Ketertarikan saya terhadap dunia pendidikan mulai tumbuh ketika menempuh pendidikan S1 di Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut, Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Sejak SMA, saya sudah terbiasa aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Bagi saya, masa muda terlalu berharga jika hanya dihabiskan dengan rutinitas kuliah dan pulang. Ada banyak hal yang ingin saya pelajari, banyak pengalaman yang ingin saya rasakan, dan banyak kesempatan yang ingin saya coba.
Pilihan mengambil jurusan Pendidikan IPS bukan sekadar tentang mempelajari teori sosial, sejarah, geografi, ataupun ekonomi. Saya mulai memahami bahwa IPS mengajarkan bagaimana manusia hidup, berinteraksi, menghadapi perubahan, dan membangun kehidupan bermasyarakat. Dari sana, ketertarikan saya terhadap dunia pendidikan semakin berkembang.

Saya mulai menyadari bahwa menjadi seorang Guru bukan hanya tentang menguasai materi pelajaran, tetapi juga tentang memahami manusia, lingkungan, dan kehidupan di sekitarnya.
Saya belum tahu sejauh apa perjalanan ini akan membawa saya. Namun, satu hal yang saya yakini: saya ingin tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya memiliki ilmu, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
PART 02 — Belajar dari Organisasi, Menemukan Banyak Pelajaran Kehidupan
“Terkadang, pelajaran terbaik tidak selalu ditemukan di dalam ruang kelas. Ada banyak hal yang hanya bisa kita pahami ketika berani terlibat dan mengambil tanggung jawab.”
Selama menjadi mahasiswa, organisasi menjadi salah satu ruang belajar yang paling berkesan bagi saya. Saya bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (Himadiksos) IPI Garut. Pada periode 2022–2023, saya dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Himadiksos.
Di waktu yang bersamaan, saya juga menjadi Koordinator Pelatih Paduan Suara dan Musik (Pammus) IPI Garut.
Dua tanggung jawab tersebut memberikan pengalaman yang tidak sederhana. Saya belajar bagaimana memimpin, berkomunikasi, menyusun program kerja, mengelola waktu, dan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki karakter berbeda.
Saya juga terlibat dalam berbagai kegiatan kolaboratif, salah satunya Workshop Desain Grafis Berbasis Canva bersama Racana Wiyata Mandala. Dari kegiatan tersebut, saya memahami bahwa bekerja sama bukan berarti semua orang harus memiliki cara berpikir yang sama. Justru, perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika setiap pihak bersedia saling mendengarkan dan menghargai.

Pengalaman organisasi juga mempertemukan saya dengan berbagai tantangan. Ketika beberapa program kerja harus dilaksanakan dalam waktu berdekatan, saya belajar menentukan prioritas, membagi tanggung jawab, dan menjaga komunikasi agar semuanya berjalan dengan baik.
Ada satu pemahaman yang semakin melekat dalam diri saya: menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menyelesaikan perkuliahan, tetapi juga tentang bagaimana mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.
Saya ingin menjadi bagian dari generasi muda yang tidak hanya berkembang untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi lingkungan.
Dari organisasi, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar tentang posisi, melainkan tentang tanggung jawab. Dan ternyata, pelajaran itu kelak menjadi bekal penting ketika saya memasuki dunia pendidikan.
PART 03 — Berani Keluar dari Zona Nyaman, Karena Bertumbuh Membutuhkan Proses
“Kita tidak akan pernah mengetahui sejauh mana kemampuan diri sebelum berani mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan.”
Salah satu pengalaman yang mengubah cara pandang saya adalah ketika mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sukalilah, Kecamatan Cibatu, Garut, pada Juni 2023.
Untuk pertama kalinya, saya harus hidup dan bekerja bersama mahasiswa dari berbagai program studi dengan karakter, kebiasaan, serta pola pikir yang berbeda. Selama satu bulan, kami belajar membangun kebersamaan, menyelesaikan persoalan, dan menjalankan program kerja untuk masyarakat.
Hal yang cukup menantang bagi saya adalah ketika dipercaya menjadi bagian dari tim hubungan masyarakat (humas). Sebelumnya, saya lebih sering berada di bagian acara. Kali ini, saya harus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah desa serta masyarakat setempat.
Awalnya, ada rasa canggung dan keraguan. Namun, saya menyadari bahwa kesempatan tersebut merupakan ruang untuk mengembangkan kemampuan yang belum banyak saya miliki.
Tidak berhenti di situ, perjalanan perkuliahan juga mempertemukan saya dengan tantangan lain ketika menjalani PLP di SMPN 1 Garut pada September–November 2023. Saat itu, jadwal kegiatan sekolah yang menerapkan sistem full day berbenturan dengan jadwal perkuliahan sore di kampus.
Saya harus mengatur waktu, menghadapi kelelahan, menyelesaikan tugas sekolah, dan tetap menjalankan tanggung jawab akademik. Ada kalanya situasi terasa melelahkan, tetapi saya belajar untuk tidak mudah menyerah.
Saya mulai memahami pentingnya komunikasi, pengendalian emosi, manajemen waktu, serta kemampuan beradaptasi.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya belajar bahwa proses bertumbuh tidak selalu nyaman. Ada kalanya kita harus menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan, mengambil peran yang belum pernah dicoba, dan menerima bahwa diri kita masih memiliki banyak kekurangan.
Namun, justru dari situlah proses pembelajaran berlangsung.
PART 04 — Dari Bangku Kuliah Menuju Ruang Kelas
“Menjadi Guru bukan tentang merasa sudah mengetahui segalanya, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar agar dapat mendampingi orang lain bertumbuh.”
Setelah menyelesaikan studi S1 pada Juli 2024, saya tidak ingin berhenti pada pencapaian gelar sarjana. Saya ingin mencoba menerapkan ilmu yang selama ini saya pelajari ke dalam kehidupan nyata.
Kesempatan itu datang ketika saya diterima sebagai Guru IPS di SMP Muhammadiyah 3 Kadungora, Garut. Selain mengajar, saya juga dipercaya menjadi pembina ekstrakurikuler paduan suara.
Memasuki ruang kelas sebagai seorang Guru memberikan pengalaman yang berbeda dari ketika saya masih menjadi mahasiswa. Saya mulai memahami bahwa mengajar tidak sesederhana menyampaikan materi dari buku atau slide presentasi.
Setiap murid memiliki karakteristik, kemampuan, minat, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Ada murid yang mudah memahami materi melalui penjelasan, ada yang membutuhkan visualisasi, dan ada pula yang lebih tertarik ketika pembelajaran dilakukan melalui praktik atau permainan.
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya adalah ketika mengajarkan materi memahami lokasi melalui peta kepada murid kelas VII. Saya mencoba menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari melalui penggunaan Google Maps, globe, video, serta permainan edukatif.
Saya ingin murid memahami bahwa peta bukan sekadar gambar dengan simbol dan garis, tetapi sesuatu yang dekat dengan kehidupan mereka. Bahkan, kegiatan sederhana seperti mencari alamat rumah atau memahami perjalanan kurir dapat menjadi bagian dari pembelajaran IPS.
Melihat murid mulai antusias, berani bertanya, dan mampu menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari memberikan kebahagiaan tersendiri bagi saya.
Namun, pengalaman mengajar juga membuat saya menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dikembangkan, terutama dalam kemampuan pedagogik, memahami karakteristik murid, serta merancang pembelajaran yang lebih bermakna.
Saya mulai bertanya kepada diri sendiri: Apakah ilmu dan kemampuan yang saya miliki saat ini sudah cukup untuk menjadi seorang Guru yang benar-benar profesional?
Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya pada keputusan berikutnya.
PART 05 — Memilih Kembali Menjadi Pembelajar: Perjalanan Menuju PPG UPI
“Tidak ada kata terlambat untuk belajar kembali. Sebab, Guru yang ingin menumbuhkan generasi masa depan harus terlebih dahulu bersedia menumbuhkan dirinya sendiri.”
Keinginan untuk terus berkembang akhirnya membawa saya mengambil langkah baru: mengikuti seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan.
Bagi saya, keputusan ini bukan sekadar keinginan untuk memperoleh sertifikat pendidik. Lebih dari itu, saya ingin memperkuat kompetensi, memperluas wawasan, dan memahami dunia pendidikan secara lebih mendalam.
Setelah melalui proses seleksi dan berbagai tahapan yang tidak mudah, perjalanan tersebut akhirnya mengantarkan saya menjadi bagian dari PPG Calon Guru bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Sebuah kesempatan yang sangat saya syukuri.
Kembali menjadi mahasiswa setelah memiliki pengalaman mengajar menghadirkan tantangan tersendiri. Kali ini, saya tidak hanya belajar memahami teori pendidikan, tetapi juga berusaha menghubungkannya dengan realitas pembelajaran di sekolah.
Ada banyak hal baru yang saya temui. Mulai dari pembelajaran mendalam, pembelajaran berdiferensiasi, pendidikan inklusif, pembelajaran sosial emosional, desain pembelajaran, hingga bagaimana merancang pengalaman belajar yang berpusat pada murid.
Saya juga semakin memahami bahwa menjadi Guru bukan berarti menjadi satu-satunya sumber pengetahuan. Guru adalah fasilitator, pendamping, sekaligus teladan yang membantu murid menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Perjalanan PPG juga mempertemukan saya dengan teman-teman dari berbagai latar belakang, dosen, Guru Pamong, serta lingkungan belajar yang memberikan banyak perspektif baru.
Ada tugas yang harus diselesaikan, praktik yang harus dijalani, refleksi yang harus dituliskan, dan berbagai tantangan yang terkadang menguras tenaga maupun pikiran. Namun, setiap proses selalu memberikan sesuatu untuk dipelajari.
Salah satu bagian yang sangat bermakna adalah pengalaman Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMPN 28 Bandung. Di sana, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari lingkungan sekolah, berinteraksi dengan murid, serta mengembangkan praktik pembelajaran IPS.

Saya belajar bahwa rancangan pembelajaran yang baik tidak selalu berjalan persis seperti yang direncanakan. Ada kondisi kelas yang harus dihadapi, ada murid yang membutuhkan pendampingan lebih, dan ada strategi yang perlu diperbaiki setelah melihat respons mereka.
Melalui berbagai pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa refleksi merupakan bagian penting dari perjalanan seorang Guru. Tidak cukup hanya bertanya apakah pembelajaran sudah terlaksana, tetapi juga perlu bertanya apakah murid benar-benar memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.
Saya juga semakin percaya bahwa pendidikan bukan tentang mengisi wadah yang kosong, melainkan mendampingi setiap murid agar mampu menemukan dan mengembangkan potensi dirinya.
PPG mengajarkan saya untuk tidak berhenti merasa cukup. Sebab, dunia terus berubah dan kebutuhan belajar generasi juga terus berkembang.
PART 06 — Mendekati Garis Akhir, Menyambut Perjalanan yang Lebih Panjang
“Sebuah perjalanan tidak menjadi bermakna hanya karena kita berhasil mencapai garis akhir, tetapi karena setiap langkah di dalamnya telah mengubah siapa diri kita.”
Kini, saya berada di penghujung perjalanan PPG Calon Guru bidang IPS di Universitas Pendidikan Indonesia. Setelah melewati berbagai proses pembelajaran, tugas akademik, praktik lapangan, diskusi, kolaborasi, dan refleksi, saya semakin dekat dengan satu pencapaian yang dahulu hanya menjadi harapan.
Jika mengingat kembali perjalanan sejak menjadi mahasiswa S1, aktif dalam organisasi, menjalani KKN dan PLP, memulai pengalaman mengajar, hingga akhirnya kembali menempuh pendidikan profesi, rasanya ada begitu banyak hal yang telah berubah dalam diri saya.
Dahulu, saya mungkin lebih banyak belajar tentang bagaimana menyampaikan materi. Sekarang, saya mulai memahami bahwa menjadi Guru juga berarti belajar mendengarkan, memahami, mendampingi, dan memberikan ruang bagi murid untuk berkembang.
Dahulu, saya menganggap keberhasilan sebagai kemampuan menyelesaikan tanggung jawab dengan baik. Sekarang, saya semakin memahami bahwa keberhasilan seorang Guru juga terlihat dari kebermanfaatan yang dapat diberikan kepada orang lain.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini belum benar-benar selesai. Menyelesaikan PPG bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar sebagai seorang pendidik.
Saya ingin menjadi Guru IPS yang adaptif terhadap perkembangan zaman, inovatif dalam menciptakan pembelajaran, serta memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial di sekitar.
Saya ingin menghadirkan pembelajaran IPS yang tidak hanya membuat murid memahami konsep, tetapi juga mampu berpikir kritis, peka terhadap persoalan sosial, menghargai perbedaan, dan mengambil peran positif dalam masyarakat.
Pada akhirnya, saya tidak ingin hanya dikenang sebagai seseorang yang pernah menempuh pendidikan profesi Guru. Saya ingin menjadi pendidik yang kehadirannya memberikan arti, meskipun melalui hal-hal sederhana.
Terima kasih kepada keluarga yang selalu memberikan doa dan dukungan, para dosen, Guru Pamong, rekan seperjuangan, serta semua orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini.
Untuk diri saya sendiri, terima kasih karena telah berani memulai, bertahan dalam proses, dan tidak berhenti mencoba.
Perjalanan ini mungkin segera sampai pada satu garis akhir, tetapi pengabdian sebagai seorang Guru justru baru akan dimulai.
EPILOG — Cerita Ini Masih Berlanjut
“Jangan hanya bercita-cita menjadi seseorang yang berhasil, tetapi berusahalah menjadi seseorang yang kehadirannya membawa manfaat.”
Inilah jejak perjalanan saya. Sebuah cerita tentang mimpi yang tumbuh, keberanian yang diuji, pengalaman yang mendewasakan, dan cita-cita yang terus diperjuangkan.
Saya adalah seorang pembelajar yang sedang berproses menjadi pendidik. Masih banyak hal yang harus dipelajari, masih banyak ruang yang perlu diperbaiki, dan masih banyak murid yang kelak akan menjadi bagian dari perjalanan pengabdian saya.
Sebab, bagi saya, menjadi Guru bukanlah tentang kapan kita berhenti belajar, melainkan tentang bagaimana kita terus bertumbuh agar dapat memberikan yang terbaik bagi generasi berikutnya.
Ini bukan akhir dari cerita. Ini adalah awal dari perjalanan pengabdian.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.